Sejarahunand06’s Weblog

OUR MINDS

OUR MINDS

FILEM INDONESIA, FILEM MURAHAN

By : ARDIANSYAH (06 181 035)

Di era yang modern ini anak-anak, remaja, dan orang dewasa lebih banyak menghabiskan waktunya di depan benda persegi empat, yang mereka kenal dengan nama Televisi. Ini membuktikan bahwa televisi adalah salah satu kebutuhan primer yang sangat fital sifatnya di dalam suatu keluarga, namun sayangnya acara-acara yang di sungguhkan tidak selalu bermutu, menarik dan kreatif. Kebanyakan acara yang di sungguhkan lebih bersifat monoton dan itu-itu saja. Hal ini dapat kita lihat dari menjamurnya sinetron-sinetron dan film-film yang kurang mendidik serta kurang berkwalitas, salah satunya adalah maraknya film-film yang bertemakan cinta dan horror di perindustrian perfilmman, hal ini tentunya tidak dapat di pandang sebelah mata. Banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari film-film ini, dan lebih banyak sisi negatifnya dari pada sisi positif yang di hasilkan dari film ini.

Jika kita definisikan berdasarkan faktor tujuan, film indonesia itu mempunyai dua tujuan penting, yang pertama tujuannya adalah sebagai film komersil. Film ini biasanya hanya mengejar target penjualan atau lebih di kenak dengan istilah mencari untung, kebanyakan film-film yang mempunyai tujuan ini adalah film kurang memperhatikan kwalitas film yang di hasilkan, dan lebih bersifat instan. Dan tujaun yang kedua adalah film yang di buat untuk festival, menurut saya film dengan kriteria ini adalah film-film yang memperhatikan kawalitas filmnya dari masalah yang terkecil sampai ke masalah yang komplek, karena tujuannya untuk festival jadi tidaklah heran kalau film ini agak eksklusif.

Umumnya sisi negative yang di timbulkan dari film ini diantaranya adalah dapat menyesatkan orang-orang yang menontonya, jika kita teliti lebih mendalam film-film dan sinetron yang acap kali di sungguhkan di TV swasta kebanyakan adalah film-film murahan, film sperti ini lebih bersifat menjual mimpi, cinta, kebohongan serta pembodohan, dan terkadang film ini tidak mempunyai tujuan yang jelas.

Berikut ini adalah penyimpangan-penyimpangan yang di lakukan oleh si pembuat film di Indonesia:

1.Tidak mempunyai tujuan
Mungkin kita sudah jengah dengan sinetron-sinetron yang di tampilkan di TV-TV swasta, kita sudah bosan dengan tema yang mereka usung adalah masalah cinta dan cinta, yang lebih parah lagi pada anak-anak usia sekolah sudah diajarkan dokrin-dokrin cinta dan di pertontonkan cinta ala orang dewasa. Ini adalah suatu pengajaran yang salah, anak-anak di usia sekolah sudah di ajarkan cara bercinta (love education) pada otak mereka.

Dampak dari film ini adalah, banyaknya anak-anak di usia sekolah sudah mulai tergoda dengan apa yang dinamakan “cinta”. Berpegangan tangan, berpelukan, sampai keciuman meeka praktekkan, yang ujung-ujungnya konsentrasi sekolah terpecah oleh masalah cinta, hal ini dapat mendorong lahirnya masa kemunduran pada dunia pendidikan.

Film dengan kriteria seperti ini adalah film-film yang tidak mempunyai tujuan, film komedi bertujuan untuk menghibur, berita bertujuan untuk memberikan informasi, tayangan sport bertujuan untuk hobi dan jasmani, namun tayangan cinta unuk apa?

2.Menjual mimpi
Selain itu kerap kali sinetron yang di sungguhkan di TV swasta dalah film-film yang bersifat hanya menjual mimpi, contoh: Ada seorang anak yang orang tuanya kaya, di usia yang muda ia sudah menguasai sebuah perusahaan, semua ia miliki, mobil, rumah bagus, dan pacaran sana-sini. Jika kita pikir-pikir apakah ada orang sperti ini di dalam kehidupan nyata? Saya rasa ini mustahil, pada film ini kita melihat bahwa kejadian sperti ini tidaklah realitas, ini dalah sebuah mimpi dan utopis yang mereka jual kepada si penonton.

3.Musiman
Pada saat ini film-film yang beredar di pasaran adalah film-film musiman, maksutnya film ini lahir karena adanya tren (musim) di perindustrian perfileman Indonesia. Orang yang membuat film dengan tipe ini adalah orang yang tidak inovasi serta tidak kreatif, ia hanya mengikuti tren yang sedang berlaku, jika film horror sedang laris manis di pasaran, maka mereka akan mencoba mengangkat film yang bertemakan horor juga, walaupun judulnya berbeda, tapi biasanya alur dan tema yang mereka bawakan masih tetap sama. Hal ini tentunya membuat si penonton jadi bosan dan jenuh, karena banyaknya film yang berukar label tapi alui\rnya masih sama. Contoh kongkrit yang dapat kita lihat adalah film dengan judul Jalangkung, setelah meledak di pasaran banyak film-film musiman yang mencoba menikuti jejak film jalangkung.

Selain itu jika film yang bertemakan cinta juga sedang laris di pasaran, mereka juga akan meniru dan mencoba mengusung tema cinta. Hal ini memperlihatkan bahwa parea pencipta film di Indonesia sudah kehabisan ide untuk menciptakan film yang bermutu.

4.Pembajakan
Film dengan criteria seperti ini adalah tipe film yang sangat memalukan karena mrereka menciptakan sebuah film dengan cara membajak, maksutnya mereka mengcopy film asing dan membuatnya dalam fersi Indonesia. Umumnya film yang mereka copy adalah film asing yang kurang terkenal, jika mereka menyadur film yang terkenal mungkin si penonton akan dengan mudah mengenali film ini, dan mencapnya sebagai pembajak. Bila sudah ketahuan mengcopy mereka akan berdalih dan bersembunyi di belakang kata, yang mereka kenal dengan “terinspirasi”, kata ini adalah sebuah kata ampuh mereka untuk menghindari kata “pembajak”.

Dari poin-poin di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa hakekat sebuah film yang bermutu harus mempunyai tujuan yang jelas, realitas, kreatif, dan tidak membajak karya orang lain

JARINGAN PERDAGANGAN ISLAM DI PESISIR DAN PEDALAMAN SUMATRA BARAT

OLEH: Hendriko Firman (06 181 038)

1. KEDATANGAN ISLAM KE INDONESIA

Teori yang menerangkan bahwa Islam pertama kali datang ke Indonesia adalah dari Persi, agaknya untuk membuat bahwa Islam pertama kali datang ke negeri kita beraliran Syiah. Asumsi atau dugaan demikian tidak bisa di pertanggung jawabkan

Dapat disimpulkan bahwa mubhalig-mubhalig Islam buat pertama kali ke Indonesia itu datang dari Gujarat (pantai barat India, daerah sebelah barat Ahamdabad.hal itu harus diartikan demikian:

Mubaligh-mubaligh itu datang dari Mekkah, Madinah mungkin saa sebagian dari Yaman, lalu singgah beberapa saat di Gujarat sebelum meneruskan perajalanan mereka ke timur (Indonesia-Malaysia –Filipina). Kemungkinan itu besar juga, mengingat perjalanan ke timur itu di tempuh dengan perahu-perahu layar mengarungi samudra Indonesia dan sangat jauh menempuh perjalanan

Di sisi lain almarhum H. Agus Salim antara lain menerangkan :”Nyatalah perhubungan dari tanah Islam di barat dengan negeri kita ini sudah ada dari zaman kebesaran khlifah dalam abad 9. pada masa itu tidak ada kapal-kapal bangsa lain dari pada bangsa Islam itu yang melayari lautan itu. Malah boleh kita pastikan bahwa bangsa kita di sini- di Sumatra dan Jawa – mendapat pelajaran dari pada bangsa Islam Arab dan Hindi itu, yang pertama-tama sekali mendapatkan pedoman dan melahirkan pelajaran ilmu falak untuk melayari lautan besar. Bangsa itu pula yang mula-mula mengadakan gambar dan peta laut dan memperhatikan pertukaran angin bermusim-musim”

Bahwa pada abad-III hijriah Al-mas’udi telah menyinggahai nusantara kita. Bisa di duga bahwa Al-mas’udi bukanlah satu-satu menyinggahi tanah air kita. Seperti dikatakan oleh H. Agus Salim, bahwa pada abad ke-9 masehi (kira-kira abad ke-2 hijriah) hubungan antara orang-orang islam dari Arab dengan bangsa kita sudah terjalin. Sebab, sebagai dikatakan oleh ahli-ahli searah, hubungan antara orang-orang Cina di Tiongkok sudah terjalin sebelum itu. Amatlah masuk di akal bahwa pelayaran antara Arab – Tiongkok pastilah menyinggahi nusantara kita karena mengarungi lautan yang demikian besar dan jauh itu sangat memerlukan tempat singgah untuk menambah perbekalan dan menantikan iklim yang baik. Dan Indonesia terletak antara negeri jazirah Arab dan Cina.

2. JALUR PERDAGANGAN ISLAM DI MINANGKABAU

Tidak benar bahwa kita berasumsi bahwa Minangkabau terisolilir dari dunia pertukaran ekonomi yang lebih luas. Ada daerah tertentu di Minangkabau Tengah yang selama berabad-abad telah memegang peran penting dalam ekonomi samudra Hindia, suatu erkonomi yang dalam banyak hal lebih dinamis dari ekonomi Eropa dalam periode yang sama. Daerah Tanah Datar di Minagkabau adalah sumber utama penghasil pelumas penting untuk ekonomi samudra Hindia yaitu emas.

Selama ini hanya sedikit diketahui tentang organisasi perdagangan emas ini. Namun, kita mengetahui bahwa banyak pedagang asing dan petualang asing tertarik untuk memasuki pedalaman Minangkabau, karena semuanya boleh di katakan ingin mendapat barang dagangan langsung dari sumbernya. Pedagang dan petualang masuk dari jalur dagang utama, seperti yang diketahui dari bukit-bukit yang di dapat kelak. Jalur-jalur utama ke pantai barat adalah Jalan Jawi, yang keluar dari Tanah Datar melalui Batipuh dan lereng gunung Selatan gunung Merapi dan kemudian ke Tambangan melewati guung Ambacang, dan jalan-jalan bukit Tujuh yang menembus jurang Anai; kedua jalur ini muncul di kaki bukit barisan Kayutanam dan dari situ bisa dicapai pantai dan pelabuahn ekspor utama Pariaman. Masih ada jalan lain yang sulit melalui danau Singkarak, untuk ini harus melalui Suruoso ke Simawang di tepi danau, menyeberangi danau dengan perahu dataran Saningbakar dan Solok, dan dari sana melewati gunung-gunung dan turun ke pantai kota tengah atau Padang. Untuk mencapai pantai timur dari daerah lembah Sinamar di sekitar Buo dan Sumpur di sekitar Sumpur Kudus, jalan utamnya adalah melalui air atau darat ke tempat-tempat pengumpulan barang di hulu sungai Inderagiri, seperti Siluka atau Durian Gedang, atau lewat dari pangkalan Sarai di hulu anak sungai Kampar Kiri.

Selama berabad-abad perdagangan emas dilakukan lewat jalur-jalur ini, dan melalui jalur ini pula pengaruh asing masuk ke minangkabau. Pilihan untuk jalur dari barat atau timur berbeda, tentu saja, menurut kemanan di selat Malaka. Ketika Minangkabau, atau tepatnya Tanah Datar, mula-mula melalui fokus sejarah, tampaknya jalur pantai barat lebih disukai pedagang-pedagang India, sehubungan dengan melemahnya Sriwijaya dan situasi selat yang tidak menguntungkan. Bukti arkeologis dan tradisi lisan menunjukan pada bahwa situasi masa, dalam abad ketiga belas, para pedagang India, yang dikenal sebagai chetti, memang masuk ke Tanah Datar dan menetap di suatu daerah di sekitar Pariangan, di lereng gungung selatan Merapi, dari situ mereka mempunyai kesempatan yang bagus esekali untuk mengamati jalan dagang utama keluar dari tanh datar. pada waktu itu fokus kehidupan Minangkabau rupanya di sekitar Lima Kaum, yang mungkin sekali punya signifikasi praktis maupun magis sebagai sebuah pusat kerajinan besi, mengingat para perain besi pada masa pra-indiaisasi Minangkabau memang sama pentingnya dengan di daerah-daerah lain di kepulaun ini. Orang-orang india selatan rupanya telah mendirikan pusat dagang dan pollitik mereka sendiri di Pariangan. Mereka mempunyai seorang pemimpin politik dengan gelar Maharadadiraja, dan kita ketahui dari prasasti pada pertengahan abad ke empat belas bahwa orang-orang dari India selatan masih hidup sebagai masyarakat tersendiri di minangkabau dimasa itu. Sementara itu pengaruh mereka telah masuk ke dalam cukup banyak kehidupan Minangkabau, dan cukup banyak kata-kata Dravidia dan Sansakerta masuk ke dalam bahasa sehari-hari keluarga, desa dan badan-badan hukum Minangkabau nagari (dalam bahasa Indonesia negeri) dan kota hanyalah dua contoh yang terbaik dari yang banyak, dan mungkin sekali para pedagang Malabar, yang baru saja menganut sistem matrilnieal, memperkenalkan atau memperkuat pranata matrilineal di daerah-daerah penanam beras di Minangkabau.

Sesaat setelah pecahnya perang saudara sesudah wafatnya raa Aditiyawarman-ra yang paling berkasrisma dan besar pada masa itu, keluarga raja pindah ke Marapalam dan lambat laun memantapkan kedudukannya sebagai mitra dagang Malaka yang di mana di kerajaan yang besar dan mengutungkan. Anggota-anggota keluarga raja menetap di berbagai tempat di lembah-lembah Sinamar dan Sumpurkudus di tepi Sumpur, dan di tempat dulu yang disebut Pagaruyung, dekat Kumanis, dimana sungai Sinamar bisa dilayari perahu dagang ke Indragiri. Pada waktu tinggal disinilah keluarga raja berhubungan dengan pedagang muslim dan pikiran Islam, dan pada akhir abad keenam belas secara bertahap mereka menjadi Islam, dan pada suatu ketika fungsi kerajaan dibagikan pada tiga anggota keluarga, karena angka tiga mempunyai arti tertentu dalam pemikiran Minangkabau, yaitu raja ibadat di Sumpur Kudus, raja adat di Buo dan raja alam di Pagaruyung. Sumpur Kudus mungkin yang paling awal memeluk agama Islam, karena adanya sungai Kampar dan Inderagiri yang ramai untuk perdagangan; dalam masa jaya kesultanan Malaka, sungai Kampar dan Inderagiri berkembang disekitar muara-muara sungai induknya sebagai daerah jajahan sultan yang paling penting, yang terkait dengan sultan Malaka dengan ikatan perkawinan dan hidup dari perdagangan transit emas dan kain India.

Dengan menanjaknya kekuasaan Portugis di Malaka dan Islamisasi Gujarat menjadikan kesultanan islam aceh di ujung uatara Sumatra sebagai pangkalan mereka, dan ini lebih meningkatkan perdagangan Gujarat dengan Minangkabau yang melalui pantai barat. Akibatnya, kesultanan Aceh yang sedang mekar berusaha memikat perdagangan emas Minagkabau untuk dirinya sendiri, agar sultan-sultan Aceh bisa bertindak sebagai perantara dalam perdagangan bilateral emas dan kain berharga. Pelabuhan emas Pariaman merupakan pelabuhan pertama di pantai barat Minangkabau yang diikutsertakan dalam pengembangan sistem monopli Aceh, dan pada kira-kira tahun 1575 salah satu putra sultan diangkat sebagai panglima disitu, sekaligus mengawasi pelabuhan kota tengah. Di bawah sultan Iskandar Muda (1607-1636) semua orang asing dilarang memasuki daerah pelabuhan dan sultan menuntut lima belas persen upeti untuk semua emas yang diekspor, selain menetapkan harga untuk sisanya.

Pedagang emas Minangkabau sering adalah wiraswastawan terkemuka, yang mengandalkan sistem politik Tanah Datar untuk memberikan perlidungan apabila ia membawa kafilahnya yang terdiri atas seratus orang lebih berjalan menuruni lereng berbatu pegunungan barisan. Mayoritas ini terdiri dari atas orang-orang yang membawa bekal perajalanan dengan diikatkan diatas kepala atau punggung mereka, dan jumlah mereka bertambah untuk perjalanan yang manakala mereka perlukan untuk mengangkut barang-barang yang diperlukan di pedalaman seperti besi dan kain. Setiap orang bisa mengangkut beban seberat lima puluh sampai enam puluh pon. Setelah tiba di pantai, si pedagang akan mendapatkan bahwa pelabuhan-pelabuhan laut yang utama di negerinya telah berada di tangan orang lain, dan dia sendiri hanya sebuah mata rantai dalam jaringan dagang yang bermula di bagian-bagian lain di samudra Hindia ini berlaku baik untuk pantai timur, dengan angkatan air yang lebih mudah, maupun pantai barat. Para penguasa politik di Minangkabau berusaha menjaga kondisi jalan dan mendorong pegadaan tempat berteduh dan menginap di sepanjang jalan bagi kafilah emas, dan sebagai imbalan mendirikan pos cukai di pintu-pintu masuk Tanah Datar, di tempat tertentu di celah gunung atau di hulu sungai, dan menaikkan pajak dagang , dengan pajak tertinggi untuk emas, semua kegiatan perpajakan juga menurun, dan keluarga raja hanya mendapat penghasilan dari tiga pos cukai, karena tidak pernah memiliki tanah pusaka. Pada akhir abad kedelapan belas harta kekayaannya telah mencapai titik nadir.

Mengetahui pedagang emas pengetahuan kita juga sama terbatasnya. Namun, masalah utamanya adalah bahwa, karena mereka semua bekerja di skala kecil, tidak pernah muncul pedagang emas besar, karena sistem perdagangan yang berhubungan langsung dengan kegiatan pertambangan skal kecil. Seperti sang tua-tambang, pedagang emas merupakan komponen khusus dalam tim penambang, yaitu seorang yang bisa mengatur sekelompok pengangkut dan melindungi mereka.

Di antara mereka yang mengusahakan ini, yang paling cerdas yang diberi sebutan saudagar atau pedagang, dipercayai oleh yang lain untuk menyimpan emas yang telah dikumpulkan, dan membawanya ke tempat-tempat dagang di sungai-sungai besar di sebelah timur, atau ke tempat permukiman di pantai barat, dimana mereka menukarkan emas dengan besi (yang banyak dipakai untuk pembuatan alat-alat untuk menggerakan pertambangan), candu dan barang-barang halus dari Madras dan Bengali, yang mereka bawa kembali dalam jumlah besar … mereka menggendong beban yang beratnya kira-kira delapan puluh kilo pon, menembus hutan, menyebrangi sungai, dan mendaki gunng; rombongan umumnya teridri dari seratus orang atau lebih dan sering haru membela miliknya terhadap keinginan untuk merampok dan memeras yang ada pada bangsa-bangsa miskin, yang daerahnya mereka harus lalui.

Intinya, tidak banyak dapat dikatakan mengenai jumlah emas yang diekspor dari Minangkabau tengah dalam masa jaya perdagangan emas, juga sedikit sekali informasi handal yang dapat diberikan mengenai hasil permintaan lain yang ada di Minangkabau. Pada umumnya barang yang ditukar derngan emas adalah kain dan pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Belanda, terutama Padang sesudah tahun 1665, hanya emas yang bisa ditukarkan dengan kain, demi meningkatkan perdagangan kain yang diusahakan oleh perusahaan Belanda. Sukar memperkirakan besarnya permintaan kain atau karena statistik Belanda selalu harus dilengkapi dengan impor pedagang yang berasal dari muslim India di pantai timur dan juga yang dilakukan oleh orang-orang Aceh dan kemudian orang Inggris di utara Pariaman – perdagangan yang sulit dihentikan oleh orang Belanda.

Dalam jaringan perdagangan Minagkabau, kunci hubungan antara penjual di pedalaman dan pemasok asing untuk barang-barang impor adalah sistem pialang pantai, yang telah berkembang dari tempat-tempat dimana jalur dagang dan daratan bertemu di tempat berlabuh yang baik dan aman. Pada awal abad-abad perdagangan emas tempat keluar masuk barang yang utama di pantai tidak diragukan lagi adalah Pariaman, dan Pariaman mempertahnkan kedudukan ini terus sampai pertengahan abad ke tujuh belas, yang meyebabkan seluruh pantai dikenal sebagai”pantai Pariaman”. Ada pemukiman pantai lain yang lebih kecil di tempat pertemuannya jalur dagang dari pedalaman dengan pantai, misalnya Tiku, Ulakan, kota Tangah dan padang, tetapi dari rute, yang salah satunya berasal dari daerah Rao Minangkabau utara, daerah penghasil emas yang penting. Bagaimana jalannya sistem dagang di pelabuhan-pelabuhan ini tidak diketahui sampai abad ketujuh belas, tetapi pelabuhan-pelabuhan ini sendiri tampaknya didirikan dan dikemabangkan oleh orang-orang dari desa atau desa-desa tertentu di dataran tinggi, untuk memajukan kepentingan dagang mereka sendiri. Kota tengah misalnya. Didirikan oleh imigran dari sanignbakar di tepi danau Singkarak, sebuah desa di salah satu rute emas, dan padang didirikan oleh emigran dari dataran Solok. Pariaman berasal dari desa-desa di daerah Batipuh, dan dianggap memiliki landasan kerajaan.

Pariaman selain memberikan fasilitas untuk perdagangan emas dan kain, juga mengumpulkan kamper, kemenyan, lilin dan madu yang berasal dari daerah di utara air bangis, kuda dari tanah Batak, sering merupakan ekspor yang penting ke Jawa Barat, dan minyak kelapa dari pulau-pulau seberang pantai barat. Pariaman juga begantung karena, berbeda dari kota pelabuhan lain, memiliki tanah yang baik di pedalaman untuk ditanami padi, tapi karena kekurangan tenaga maka didatangkanlah budak-budak dari pulau-pulau, dan dengan demikian berkembanglah perdagangan budak, terutama dengan pulau Nias. Kekurangan beras uga diatasi dengan sumber ini.

Akhirnya, untuk pertama kali daerah Minangkabau menjalankan peran baru, dan mulai mengejar keberadaan yang berbahaya sebagai pedagang penghasil suatu komoditi pertanian untuk pasaran asing. Komoditi yang dimaksud adalah lada. Pembahasan mengenai mengenai mulainya penanaman lada di pantai penting bagi kita, tidak saja karena perubahan-perubahan yang ditimbulkannya dalam hakekat sistem perantara di pantai, tapi juga pengalaman petani kopi Minangkabau pada awal abad kesembilan belas, dan perbandingan kedua kasus akan membantu kita memahami bahwa masalah-maasalah yang dihadapi para petani yang terlibat dalam produksi hasil tanaman dagang untuk pasaran asing bukan semata-mata perkembangan abad kesembilan belas.

SEJARAH YANG REFLEKTIF

BY: HENDRIKO FIRMAN

Siapa bilang sejarah hanya berisi catatan2 masa lalu
yang tidak ada relevansinya dengan masa kini?

Kompas pernah menurunkan catatan menarik tentang
salah satu episode perjalanan bangsa ini –Budi
Utomo– yang ditulis oleh Budiarto Shambazy. Dikatakan
menarik, karena penulis tidak hanya menuliskan data2
kering tentang peristiwa saat itu –tapi juga
membawanya ke masa kini sebagai catatan refelektif
yang sangat baik untuk direnungkan bersama.

Sebagaimana diketahui, Budi Utomo dikenal sebagai
tonggak awal perjalanan kesadaran berbangsa
(nasionalisme) bangsa kita. Meskipun kejadiannya sudah
berlangsung 99 tahun yang lalu, namun bila kita
refelksikan saat ini, ternyata masih banyak yang masih
relevan untuk dipelajari (tepatnya: diteladani).
Antara lain:

1. Semangat pluralisme. Budi Utomo saat itu dibangun
oleh beragam etnis, suku dan agama yang ada di
Nusantara. Karena itu sungguh tidak relevan bila saat
ini masih ada segelintir orang yang menganggap
kelompoknya adalah yang utama dalam membangun bangsa
ini;

2. Semangat antikolonial/ penjajah. Saat ini bentuk
penjajahan tentunya tidak dalam politik lagi, tapi
terutama pada bidang ekonomi dan budaya. Lihatlah
perusahaan asing yang banyak masuk ke negeri ini,
sementara perusahaan kita di luar bisa dihitung sama
jari. Bersamaan dengan itu, erosi kebudayaan juga
banyak terjadi di negeri ini. Salah satunya, dalam
penggunaan bahasa dan pola pikir yang cenderung
westernisasi;

3. Semangat nasionalisme. Bila kita saat ini masih
banyak ditemui semangat isme sempit di kalangan bangsa
kita, terutama dalam hal rekrutmen jabatan publik pada
umumnya;

4. Semangat kepemimpinan yang jujur (yang dicontohkan
oleh pendiri Budi Utomo langsung, Dr Wahidin
Sudirohusodo, seorang priyayi yang berpendidikan
tinggi namun bersedia tanpa pamrih berjuang untuk
kemajuan bangsanya). Yang terjadi saat ini kebanyakan
pemimpin kita adalah yang pintar berkilah ketimbang
bertanggung jawab atas perbuatannya. Contoh tentang
ini tentu banyak sekali, tidak perlu diberi contoh
satu per satu; dan

5. Semangat memberi pendidikan sebagai sarana
pencerahan bangsa. Hal ini sangat bertolak belakang
dengan kondisi sistem pendidikan kita saat ini.
Permasalahan terakhir bisa kita lihat pada saat
dilaksanakannya ujian nasional: selain banyaknya soal
yang bocor, juga semangat untuk ‘pemerataan’ ujian itu
tidak disesuaikan dengan kondisi yang ada (sarana dan
prasaran serta kualtas guru2nya sendiri yang tidak
sama antardaerah) . Belum lagi betapa mahalnya biaya
pendidikan saat ini, meski UUD ‘45 Pasal 30 negara
telah menjaminnya.

Dari contoh kasus di atas, bisa diartikan bahwa tidak
selamanya pelajaran sejarah itu tidak berguna/usang.
Bila orang arif mempelajarinya, sejarah juga bisa
menjadi sarana pembelajaran bagi generasi berikutnya.
Justru dengan pelajaran sejarah, kita jadi tahu dari
mana dan mau kemana bangsa ini bergerak.

AYO MENULIS

“Orang yang memiliki kebiasaan menulis memiliki kondisi mental lebih sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukannya.”

James Pennebaker, Ph.D., dan Janet Seagal, Ph.D., University of Texas, Austin, dalam Journal of Clinical Psychology.

“AYO BELAJAR!”, begitulah perintah orang tua terhadap anaknya ketika sang anak ketahuan sedang asyik menonton televisi atau bermain game. Kalimat generik dari orang tua mana pun, bahkan hal serupa pernah kita alami ketika kita masih kanak-kanak. Namun, rasanya kita jarang mendengar atau bahkan tak pernah ada orang tua yang menyuruh anaknya untuk menulis? “Ayo menulis!”, pernahkah Anda mendengarnya?

Betul, menulis. Tak lazim memang perintah itu. Bagi anak-anak yang masih terbatas kemampuan menulisnya pasti akan mendelik. “BT ah” mungkin kalimat itu yang akan keluar dari mulutnya. Lagi pula, jangankan anak-anak, orang dewasa pun pasti akan kesulitan untuk diberi perintah seperti itu. Menulis?

Betul, menulis. Sederet kalimat akan meluncur. Bila semua orang bisa menulis, tentu negeri ini akan penuh dengan karya sastra. Mungkin juga sastra tidak akan ada lagi, kalau semua orang bisa menulis, apalagi dengan kalimat yang indah dan berirama layaknya pujangga. Menulis memerlukan keterampilan tersendiri. Benarkah demikian?

Tidak juga sebenarnya. Pada dasarnya setiap orang dapat melakukan kegiatan tulis-menulis, bahkan secara menyenangkan. Tak ada keterampilan atau keahlian khusus dalam menulis. Anda mungkin mengenal nama Rachmania Arunita. Dia adalah perempuan muda pengarang novel remaja best seller, ‘Eiffel, I’m in Love’. Rachma mengaku pada awalnya tidak suka menulis. Tapi ketika guru bahasa Prancis mewajibkan murid-muridnya untuk membuat sebuah karangan, dia mulai ketagihan menulis. Rachma berkisah, awalnya ia sering melakukan plagiat alias menjiplak tapi ketahuan. Rachma pun kena omel dan dihukum untuk membuat PR mengarang. Tak diduga, hasil karangannya mendapat acungan jempol gurunya bahkan dipuji di depan kelas. Mulai dari situ Rachma pun ketagihan menulis hingga akhirnya ia menelurkan novelnya yang ternyata meledak di pasaran. Bahkan kemudian diangkat dalam film dengan judul yang sama, dan berhasil mengundang dua juta penonton. Kebanyakan dari mereka adalah kaum remaja.

Persoalan lain yang kerap mengganggu proses menulis adalah soal mood. Lainnya? Fasilitasnya tidak tersedia dengan lengkap, seperti komputer, laptop atau lainnya. Ah, itu sih alasan klasik. Lihatlah Agatha Christie, pengarang novel misteri terkenal. Anda mungkin bisa membayangkan susahnya orang menulis saat itu, di zaman tahun 1920-1930an. Namun dengan segala keterbatasan peralatan, lahir novel-novel berkelas dunia dari Agatha Christie, Ngaio Marsh, Sir Arthur Conan Doyle dan seabreg pengarang top lainnya.

Jadi sesungguhnya yang paling penting untuk menulis ialah niat dari awalnya. Kesungguhan tanpa dimulai dengan niat pada awalnya, tentu tak akan terlaksana dengan baik. Orang bijak bilang bahwa cara yang paling sederhana untuk menumpahkan isi hati dan pikiran adalah dengan menulis, karena bila tidak, ia seperti sebuah saluran, suatu saat tersumbat dan meledak.

Seorang wanita bernama Dewi Hermayanti dalam suatu milis menceritakan unek-uneknya. Dewi mengatakan, “Kadang-kadang perlu rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati lewat tulisan. Apalagi rasanya sudah sesak di dada. Cuma apa yang harus ditulis, bingung tidak apa yang akan ditulis. Tapi dia menyadari, menulis adalah sangat penting. Aneh memang. Tapi begitulah, Andai saja otak kita punya tombol print mungkin gampang saja mengeluarkan isi otak kita. Tinggal pencet print terus select subject, langsung keluar deh apa yang mau kita ungkapkan dalam tulisan. Sayang, otak kita cuma bisa memerintah si tangan untuk bergerak sesuai yang diperintahkan.”

Terkesan dengan unek-unek tersebut, Pak Hernowo dari Penerbit Mizan, menanggapi posting Ibu Dewi. Dia pernah melakukan studi kecil-kecilan tentang kegiatan menulis. Selama melakukan studi itu, nah ini yang penting, ia kemudian bertemu dengan Psikolog Pennebaker yang menganggap menulis dapat mengatasi depresi. Menulis itu dapat menyehatkan tubuh dan jiwa. Pennebaker meniru tradisi confession dalam agama Katolik dan menerapkannya pada pembuatan catatan harian. Bahkan seorang penulis kondang, Fatima Mernissi, juga bilang bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah. Hernowo pun bercerita bahwa ia bertemu dengan ahli linguistik bernama Dr. Stephen D. Krashen. Penelitiannya menunjukkan bahwa menulis dapat memecahkan problem-problem diri. Katanya, menulis itu menata pikiran. Jadi, kalau kita dapat menata problem kita, bisa jadi problem kita bisa hilang. Dan dia juga membuktikan bahwa menulis dan membaca itu tidak dapat dipisahkan. Membaca itu memasukkan, dan menulis itu mengeluarkan. Demikian Hernowo menjelaskan dalam postingnya.

Keampuhan menulis tidak saja dialami Hernowo dalam penelitian kecil-kecilannya itu. Dari seberang sana, tepatnya di Amerika Serikat, Joshua M. Smyth, psikolog dari Syracuse University lebih jauh lagi menyatakan menulis dapat menghasilkan perubahan pada sistem imunitas dan hormonal dalam merespons beban stres, dan meningkatkan hubungan dan kemampuan kita menghadapi stres.

Contohnya, ada juga. Dia adalah Debra Van Wert, 44 tahun, dari Rochester, New York, setelah menderita Pre-Menstrual Syndrome (PMS) atau sindrom menjelang menstruasi selama lebih dari satu dekade, Debra mulai mencatat gejala-gejala yang dialami tubuhnya. Debra mengatakan, “Dengan membuat catatan, saya dapat mengantisipasi fase-fase hormonal dan mengidentifikasi minggu kapan saya berada pada kondisi paling fit dan paling buruk.”

Kegiatan menulis tidaklah dimaksudkan untuk menjadi sastrawan besar, tapi paling tidak punya manfaat bagi kesehatan. Sebagaimana dikutip dari Majalah Reader Digest Indonesia, April 2005, berikut adalah sejumlah keuntungan dari menulis:

MENGURANGI BERAT BADAN. Para peneliti dari Women’s Health Initiative menarik kesimpulan bahwa catatan harian tentang makanan yang dikonsumsi membantu menimbulkan kesadaran tentang konsumsi kalori dan asupan lemak. Dan jika Anda mengetahui seberapa banyak yang telah dilahap, akan lebih mudah menguranginya.

MENINGKATKAN KUALITAS TIDUR. Ilmuwan di Temple University menemukan bahwa wanita yang menuliskan pengalaman traumatisnya – seperti pemerkosaan atau kecelakaan lalu lintas yang parah – ternyata jarang mengalami sakit kepala, susah tidur, dan gejala depresi dibandingkan mereka yang tidak mau menuliskannya.

MELAWAN PENYAKIT. Berdasarkan sebuah penelitian pada tahun 2002 di Ben-Gurion University, Israel, disimpulkan bahwa mereka yang menuliskan sebuah kejadian yang menjadi beban pikiran, akan mengurangi frekuensi kunjungan mereka ke klinik pengobatan selama l5 bulan ke depan.

MENGURANGI STRES. Sebuah studi di Chicago Medical School menemukan bahwa ketika penderita kanker yang kurang diperhatikan keluarganya menuliskan tentang penyakit yang diderita selama 20 menit setiap hari, mereka jadi jarang mengalami stres selama enam bulan berikutnya.

Nah, mengapa Anda tidak menyiapkan pulpen dan kertas untuk mulai menulis sejak sekarang. Karena ternyata menulis bukan hanya menyenangkan, tapi juga menyehatkan lahir dan batin. Bahkan bisa jadi Anda dapat menangguk untung karenanya. Dan, jangan lupa, bila suatu saat Anda sakit, setidaknya satu resep sudah di tangan: ”menulis”. Ini bukan sekedar lelucon. Penelitian telah membuktikannya. So, tunggu apa lagi? Ayo Menulis!

Sonny Wibisono.

& Komentar

2 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar